Mitos granit tille masih banyak beredar di masyarakat, dan sayangnya sebagian di antaranya justru bikin orang ragu memilih material ini padahal faktanya tidak seburuk anggapan yang beredar. Dari soal kenyamanan, ketahanan, sampai urusan harga, banyak asumsi yang sebenarnya sudah ketinggalan zaman.
Sebagian mitos ini juga muncul karena kebingungan membedakan granit alam dengan granit porselen yang banyak dipakai di rumah-rumah modern saat ini, padahal keduanya punya karakteristik yang cukup berbeda.
Yuk, bongkar satu per satu mitos granit yang paling sering terdengar, dan cari tahu fakta sebenarnya di baliknya.

Sensasi sejuk saat menginjak lantai granit memang nyata, tapi ini bukan kekurangan, melainkan sifat alami material yang punya konduktivitas panas tinggi sehingga cepat menyerap suhu tubuh.
Justru sifat ini jadi keuntungan besar di iklim tropis seperti Indonesia, karena lantai terasa sejuk meski cuaca di luar sedang terik. Jika khawatir dengan kesan dingin secara visual, hal ini bisa disiasati lewat pemilihan warna hangat seperti earth tone, penambahan karpet di beberapa titik, atau pencahayaan yang lebih warm di ruang-ruang tertentu.

Anggapan ini sering muncul karena pengalaman buruk yang sebenarnya berasal dari kesalahan pemasangan, bukan dari kualitas materialnya. Granit seperti dari ROMAN diproduksi melalui pembakaran bersuhu tinggi di atas 1.200°C yang membuat strukturnya padat dan kuat menahan beban harian.
Retak biasanya terjadi karena dasar lantai yang tidak rata, penggunaan perekat yang kurang tepat, atau tidak adanya celah nat yang memadai untuk mengakomodasi pemuaian material. Dengan pemasangan yang benar, risiko ini bisa diminimalkan jauh dari yang dibayangkan.

Mitos ini sebenarnya lebih tepat berlaku untuk granit alam, yang memang berpori dan butuh pelapisan sealant secara berkala agar tidak menyerap noda. Granit tile yang banyak dipakai untuk lantai rumah saat ini justru punya daya serap air yang sangat rendah. Daya serap air pada Roman Granit kurang dari 0,5%, sehingga tidak menyerap air, tidak berubah warna sehingga tidak memerlukan pemolesan rutin seperti anggapan banyak orang.
Perawatannya cukup dengan menyapu dan mengepel secara teratur, membuat granit justru jadi salah satu material lantai yang paling praktis dirawat dalam jangka panjang.

Harga granit memang bervariasi tergantung ukuran, motif, dan tingkat kesulitan pemasangan, tapi anggapan bahwa granit selalu identik dengan budget besar sudah tidak sepenuhnya benar.
Saat ini tersedia banyak pilihan granit dengan ukuran dan motif yang lebih terjangkau, mulai dari 30×30 cm hingga 100×100 cm dengan kisaran harga yang bisa disesuaikan dengan anggaran renovasi rumah.
Perbandingan harga per meter dengan keramik memang ada selisihnya, tapi daya tahan granit yang lebih lama membuat biaya perawatan jangka panjangnya justru bisa lebih hemat.

Ada perbedaan mendasar antara granit alam yang ditambang langsung dari batuan, dengan granit porselen yang diproduksi secara pabrikan dengan berbagai motif dan finishing seperti glossy, matt, hingga structured.
Di ROMAN tersedia beragam lini produk dengan karakter berbeda, mulai dari motif kayu, batu alam, marmer, hingga semen ekspos, dengan ukuran mulai dari standar sampai format besar seperti 120×60 cm dan 100×100 cm.
Memilih granit yang tepat sebenarnya soal menyesuaikan karakter, fungsi ruang, dan gaya desain yang diinginkan, bukan sekadar asal pilih karena dianggap semuanya sama.
Menariknya, kini ROMAN dan QUADRA telah bersinergi menjadi satu kesatuan integrated tile solution, menghadirkan pilihan material yang jauh lebih lengkap untuk berbagai kebutuhan ruang.
Mulai dari ukuran mosaic, granit dalam berbagai ukuran, hingga sintered stone slab berukuran besar dari Quadra yang bisa mencapai 320×160 cm, semuanya kini bisa kamu dapatkan dalam satu solusi terpadu untuk kebutuhan lantai dan dinding rumahmu.
Masih ragu memilih granit untuk rumahmu? Kunjungi showroom House of Roman terdekat atau jaringan toko yang tersebar di seluruh Indonesia.